Tahun Pertama di Jakarta mengajarkan komitmen

Tahun 2008 baru saja terlewatkan tadi malam. Tahun yang penuh dengan dinamika dalam kehidupan saya. Lingkungan kerja yang berat dan tidak sesuai hidup saya, perjalanan cinta yang telah mencapai pelabuhan baru sebagai harapan akhir, persahabatan dan persaudaraan baru yang erat, semuanya tampil dalam slideshow kehidupan saya di tahun 2008. Di luar itu, beberapa kejadian juga terjadi di sekitar saya yang banyak memberikan pelajaran tentang komitmen. Mulai dari penghancuran komitmen kerja yang menyebabkan saya terpaksa hengkang dari perusahaan yang lama sampai dengan sebuah ikatan semu dua insan yang oleh pengikatnya disebut komitmen akan tetapi saya menyebutnya sebagai komitmen loncatan menuju komitmen lain .

Di awal tahun 2008, saya berangkat ke Jakarta untuk memenuhi panggilan kerja dari sebuah perusahaan IT ( sebenarnya maksud saya “terpanggil untuk bekerja…demi sesuap nasi” hehe ). Sebut saja nama perusahaan itu : Satu-satunya. Istilah ini mengutip dari seorang teman untuk menggambarkan  betapa kacaunya manajemen perusahaan itu yang tidak ada duanya . Dalam rencana hidup saya, tidak pernah tertulis kata “Jakarta” bahkan sejak rencana itu di buat. Bahkan saya sempat bersikap Anti-Jakarta karena bayangan kehidupan yang semrawut, anarkis, dan tidak teratur. Akan tetapi takdir sebagai praktisi IT yang menyebabkan saya harus menerjang hal-hal itu jika ingin makan. Ya iya laahh…bagaimana saya bisa hidup kalau saya hanya mampu di bidang IT kalau saya hidup di tengah sawah pedesaan tanpa jaringan internet ataupun keyboard dibawah telapak tangan saya.

Perjalanan hidup saya pun berlanjut. Di awal saya bekerja, perusahaan ini belum menunjukkan bahwa komitmen kerja itu akan diingkari. Proyek-proyek IT saya selesaikan dengan baik, bahkan beberapa di antaranya mendapatkan apresiasi dari sejumlah pihak di luar perusahaan. Rekan-rekan kerja yang akrab dan begitu erat mengikat tali persaudaraan membuat saya begitu nyaman dengan komunitas ini meskipun sejalan dengan itu manajemen mulai menunjukkan gelagat tidak beres. Begitu nyamannya saya dalam komunitas ini hingga tanpa saya sadari hati saya mulai terikat dengan seorang rekan wanita. Kisah itu kemudian berlanjut sampai dengan saat saya menulis blog ini dengan berbagai dinamika dan romantismenya. Sedangkan kisah lama pun berakhir … juga karena kehampaan komitmen.

Di pertengahan tahun 2008, saya terlibat dalam sebuah proyek perencanaan blue print IT untuk sebuah instansi pemerintah. Dalam proyek ini saya berkenalan dengan seorang master ahli metadata lulusan Thailand. Pola pikir sang master yang low profile ini sedikit banyak telah mempengaruhi pola pikir saya dalam menilai dan menyikapi masalah. Kelak beliau juga salah satunya yang membuat saya merasa berat meninggalkan Satu-satunya. Istilah ‘Satu-satunya’ ini juga berasal dari beliau. Rahasia kenyamanan bekerja bersama beliau ternyata kembali lagi kepada kata mutiara tadi : komitmen. Hanya dengan tim berisikan 3 orang tenaga IT, beliau bisa membawa pekerjaan berjalan tertib sesuai dengan perencanaan. Lagi-lagi rahasianya adalah komitmen yang dipegang oleh setiap anggota tim. Sayangnya sang master juga ‘tersedak’ oleh pelecahan komitmen oleh manajemen perusahaan Satu-satunya yang semakin berani berulah.

Menjelang Ramadhan dan lebaran, rekan wanita pengikat hati saya yang tadi saya ceritakan di atas hengkang dari Satu-satunya. Perlakuan tidak manusiawi terhadapnya membuat dia tidak bisa bertahan.  Sedangkan pihak manajemen tidak bereaksi meskipun komunitas di level bawah mulai bergejolak, entah acuh ataukah memang tidak tahu. Kepercayaan karyawan terhadap manajemen Satu-satunya pun mulai hilang. Pihak manajemen masih menganggap mereka paling benar dan akan SELALU MENANG menghadapi KELUHAN karyawan. Menang melawan orang yang mengeluh…layakkah itu??? Apakah saya keliru kalau menganggap itu sebuah arogansi? Yah…bagaimanapun itulah yang terjadi. Diam-diam beberapa rekan telah mempersiapkan diri untuk pindah ke perusahaan lain yang saya ibaratkan dengan ejection-seat atau kursi pelontar di pesawat tempur yang biasanya digunakan pilot untuk menyelamatkan diri.

Ramadhan berakhir, lebaran pun usai. Satu minggu masuk kerja, seorang rekan kerja yang paling expert di level kami mengundurkan diri. Dua minggu kemudian seorang rekan meyusul mengundurkan diri pula. Di awal November, 2 orang karyawan mengundurkan diri (saya salah satunya). Di awal Desember, 2 orang rekan juga menyusul mengundurkan diri. Sementara itu beberapa yang lainnya bimbang untuk melanjutkan kontrak yang ditawarkan. weeeewww….akhirnya ejection-seat berlontaran tak terkendali . Sementara itu saya masih memanfaatkan sisa waktu saya di Satu-satunya dengan menyelesaikan proyek limpahan dari rekan yang mengundurkan diri terdahulu sampai dengan akhir November.

Awal Desember, saya mulai bekerja di sebuah perusahaan IT yang berada di bawah naungan sebuah group besar. Rencana masa depan mulai bisa disusun mulai saat ini baik karir, pengembangan diri, rencana berkeluarga, dan usaha sampingan sudah ada flowchartnya dalam benak saya. Sebuah langkah ringan telah saya lakukan di akhir tahun ini. Yup…kenalan sama camer..xixixii . Eits…tapi bagi saya itu sebuah langkah ringan yang berarti. Karena itu adalah sebuah awal untuk melakukan langkah selanjutnya.

Di awal Desember ini pula saya mendapati kenyataan lain yang dialami dua orang teman berbeda gender yang tadinya saling mencintai namun akhirnya kandas. Lagi-lagi permasalahannya adalah kurang mantapnya komitmen. Mungkin juga karena terburu-buru membuat komitmen sehingga harus berakhir dengan perpisahan. Karena ternyata salah satu dari mereka baru menyadari bahwa dia terlalu cepat membuat komitmen baru setelah merasa sebelumnya pernah gagal membuat komitmen. Atau bahkan mungkin belum mengerti apa itu komitmen. Dalam waktu yang hampir bersamaan, nun jauh di luar jakarta, di Kota Malang tempat saya dahulu menuntut ilmu, hal serupa juga terjadi pada kedua adik seperguruan saya. Saya tidak bisa berkomentar apa-apa terhadap mereka atau siapa yang harus disalahkan. Karena memang ini bukan hal yang layak untuk diperdebatkan karena bukan sesuatu yang logis. Hanya sebuah penilaian tentang makhluk berjuluk tiang negara ini :

Jangan pernah membuat komitmen dengan wanita atas dasar logika. Karena anda pasti akan sakit hati apabila perasaannya memilih logikanya sendiri. Anda tidak bisa menyalahkan kenapa wanita seperti itu karena seperti itulah kodratnya.

Tahun 2008 benar-benar penuh dengan pelajaran mengenai komitmen. Sehingga cukup layak apabila dalam kehidupan saya hingga saat ini, shio komitmen jatuh pada tahun 2008  .

2 Replies to “Tahun Pertama di Jakarta mengajarkan komitmen”

Comments are closed.