Ramadhan ini kecewa terhadapku.

Ramadhan kembali hadir dalam rentang umurku, penuh dengan suka cita dan nuansa sakral yang menyertainya. Aku masih terkungkung dalam rutinitas keduniawian yang tiada pernah habisnya. Materi, kesombongan dan kemaslahatan diri masih membelenggu diriku dengan label “mencari sesuap nasi”. Berbagai peringatan dari Penguasa Alam berupa kecelakaan lalu lintas sampai dengan berbagai bentuk kehilangan materi, tidak juga membuatku mampu membersihkan kerak hitam yang menutupi hatiku dari cahaya Ilahi.

Mungkin dalam kondisi seperti ini kalimat ringan yang sering dijadikan teman-teman untuk memotivasi diriku adalah “belum ada kata terlambat untuk bertaubat”. Seiring itu pula lidah dan bibirku senantiasa berkolaborasi indah untuk mengucapkan istighfar. Namun anehnya Hatiku, sang presiden tubuhku, tidak mampu menularkan kolaborasi indah itu kepada anggota tubuhku yang lain untuk menyambut istighfar tadi dengan rangkaian ibadah khusyu’. Diriku sekarang sungguh jauh berbeda dengan diriku saat masih sekolah dahulu yang selalu teratur dalam beribadah dan seakan haus akan sakralnya ibadah. Benarkah diriku saat ini tengah dikuasai Iblis laknatullah ‘alaiih??

Rutinitasku saat ini hampir sepenuhnya dikuasai keduniawian. Berangkat jam 7 pagi hari dan terlambat sampai di kantor, lalu mengumpat. Jam 5 sore pulang dari kantor dan sampai di rumah jam 7 malam bahkan waktu maghribkupun terlewatkan oleh macetnya jalanan jakarta. Oke-lah masih bisa dijama’. Selepas Isya, masih pula aku bergelut dengan laptop yang kuperoleh dengan berhutang lagi-lagi dengan alasan mencari sesuap nasi. Tidur malam jam 01.00 sudah menjadi hal yang lumrah bahkan kebiasaan. Akibatnya shubuh pun selalu berlomba dengan nongolnya sang mentari di ufuk timur. Lalu lingkaran iblis ini pun berlanjut kembali keesokan harinya. Mana alokasi waktu untuk bertaubat dan bersyukur?? Uhh…bodohnya aku.

Malam ini malam ke 19 ramadhan. Beberapa hari lagi jutaan manusia muttaqiin akan menuai fithrah. Sedangkan aku??…tidak ada yang aku peroleh dari Ramadhan ini selain lapar dan dahaga. Entah berapa Ramadhan lagi aku harus menempuh jalan-jalan iblis seperti ini…meskipun aku sangat ingin melepaskan kondisi ini dan bertafakkur seumur hidup di dalam sejuknya masjid pesantren, meneguk segarnya siraman rohani, dan melahap lezatnya lantunan ayat-ayat kalamullah.

Wahai Pemilik Jiwaku, mudah-mudahan Engkau masih berkenan memberikan kesempatan padaku untuk melepaskan diri dari belenggu ini dan berlari mendekat padaMu..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *