Refleksi Awal Tahun Pekerja Malam

Sudah hampir 90 malam aku berkeliaran di dunia antar-jaringan (baca:internet) sampe jam 3 Р4  pagi seperti ini. Gila emang, tapi emang baru jam segini aku baru punya waktu untuk mengerjakan project-project yang menumpuk di Ruang Project Management Cyber Office . Rutinitas ini mungkin akan seterusnya aku jalani sampai dengan rumah mungil impianku bisa terbeli. Sampai saat ini pun aku masih bersyukur dikaruniai tenaga dan spirit yang sedikit lebih tinggi derajatnya dibanding teman-teman lain yang maksimal hanya mampu menopang kelopak mata sampai jam 11 malam. 

Kepenatanku memang mulai jarang aku rasakan semenjak kehadiran Qila, putri kecilku. Ini sebenarnya berbahaya karena, kata orang, kebanyakan sakit tipes akibat kecapekan diawali dari rasa lelah yang tidak pernah dirasakan. Berangkat ke kantor ‘resmi’ jam 8 pagi, pulang jam 6 petang memang capek. Tapi seketika capekku hilang saat Qila membentangkan kedua tangannya untuk digendong.

Tahun ini harus diawali dengan semangat. Mungkin semangat itu sendiri harus diawali dengan semangat untuk resign , eh maksudku semangat untuk mendapatkan penghasilan yang lebih manusiawi . Tahun lalu banyak kegagalanku yang mestinya bisa diantisipasi. Namun kecerobohan demi kecerobohan pemikiran telah membuatku dan keluarga yang kupimpin terpuruk. Introspeksi?? itu kan hanya istilah yang gampang diucapkan. Namun kalau ditanya “apa yang kamu lakukan setelah introspeksi?” …”kata ustadz ya jangan dulangi lagi di masa depan!” . Nope!, memperbaiki sesuatu kesalahan bukan hanya dengan melakukan hal yang sebaliknya di masa depan. Akan tetapi harus mengatasi akibat dari kesalahan yang lalu dulu barulah melakukan hal yang sebaliknya di masa depan. Karena kesalahan yang telah dilakukan tetap harus dipertanggung jawabkan.

Ini saatnya aku harus berpikir untuk bertanggung jawab atas kesalahan-kesalahanku selama setahun terakhir. Ini bukan hal yang mudah. Mungkin untuk memperbaikinya membutuhkan waktu tidak hanya 1-2 tahun, tapi mungkin juga bertahun-tahun. Manusia memang tempatnya salah dan lupa, tapi bukan berarti itu bisa dijadikan prinsip agar kita mudah termaafkan setelah melakukan kesalahan. Waspada dan kehati-hatianlah sebenarnya yang layak dijadikan prinsip….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *