Bodohlah untuk bisa menjadi atasan….

Selalu saja tengah malam seperti ini, segala curahan keluhan, kekesalan, kebekuan pikiranku tercurah di sini. Masih terpikirkan ucapan seorang rekan di kantor yang mungkin saja ada benarnya. Banyak hal dan persoalan dalam pekerjaan yang mampu aku selesaikan dengan cara-cara yang efektif dan efisien. Namun ternyata justru itu lah yang jadi penyebab aku masih berada pada derajat seperti sekarang ini dalam pekerjaanku…..seorang kuli ketik bahasa komputer yang harus mampu memecahkan segala masalah yang dihadapi dalam dunia IT…

Awalnya seperti biasanya aku saling berbagi ilmu dan skill dengan rekanku ini, karena memang hanya dengan dia diskusi lebih bernilai dan bermanfaat ketimbang diskusi dengan teman yang lain atau bahkan atasanku sekalipun. Sharing singkat ini tentang penggunaan sebuah tool (baca : software) untuk mempermudah penyelesaian pekerjaanku. Hanya dalam hitungan jam, pekerjaan yang seharusnya aku selesaikan dalam 5 hari, tuntas hari itu juga. Begitu aku share tentang ini padanya, satu kalimat yang terlontar membuatku terpikir hingga posting ini ku-publish , “Makanya lu ga bakal bisa jadi atasan, karena ‘punya kemampuan'” (**kata asli nya ku sensor untuk menghindari kesombongan ). Mungkin kalimat itu hanya kalimat candaan dan asal ‘nyeplos’, tapi aku justru berpikir sebaliknya. Thanks sobat, kau telah membuatku pikiranku terbuka….

Aku baru menyadari mungkin ucapan rekanku itu ada benarnya. Orang yang memiliki kemampuan akan ditempatkan pada posisi sesuai dengan kemampuannya, sedangkan orang yang mampunya hanya menyuruh, memerintah, dan mengomentari, pasti akan ditempatkan oleh management perusahaan di posisi yang layak untuk memerintah, ….ya iyalah, kan emang sesuai dengan kemampuannya itu . Hmmmm….sebuah dilema memang. Seolah-olah jika kita jadi orang berilmu, justru kita diinjak-injak orang yang berkuasa meskipun tidak memiliki ilmu apapun selain menginjak2 itu.

Aku sudah bertahun-tahun (***lebay) malang melintang di dunia IT ini dan semua atasanku ternyata seperti itu. Bodohnya, aku baru menyadari kenyataan ini sekarang. Aku belum pernah memiliki atasan yang mengerti pekerjaanku. Tapi yang sok mengerti…kayaknya hampir semuanya. ┬áTidak jarang aku menemui otak pola pikir atasan yang konyol, aneh dan membuatku merasa sebagai orang paling bodoh dalam dunia digital ini. Misalnya kalimat, “Ntar aplikasinya kita taruh di IIX internasional aja” atau pertanyaan “Hah, kita keserang SQL Injection? dari mana hackernya bisa tau username dan password kita???” . Belum lagi kalo bentuknya instruksi yang rasanya aku pengen tutup kuping biar ga ketularan bego, “Ah, security web itu ga urgent…itu ga prioritas ngapain kamu buang2 waktu?. Kerjakan yang penting2 aja”.

Ini sesuatu yang menyedihkan tapi inilah kenyataan. Kenyataan bahwa untuk menjadi seorang atasan/bos/manager/direktur ,atau apalah istilah2 keren lainnya, justru tidak perlu memiliki kemampuan di bidangnya. Toh dia kan punya anak buah yang pasti memiliki skill tinggi karena telah difilter melalui proses recruitment.

2 Replies to “Bodohlah untuk bisa menjadi atasan….”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *