Kenyamanan semu seorang superior

Sebuah obrolan dengan seorang teman yang luar biasa di kantor telah memberiku inspirasi bahwa sudah waktunya aku harus mengambil langkah revolusioner dalam hidupku. Langkah yang harus kujejakkan pada jalan sempit gelap yang didampingi jurang maut di setiap sisinya. Keberanian untuk lepas dari kenyamanan kerja di ruangan ber-AC, pekerjaan-pekerjaan mudah, rekan-rekan kerja yang baik dan bersahabat, dan jaminan kesinambungan. Satu kalimat yang dikatakannya akhirnya menjadi motivasi bagiku untuk bangun dari mimpi indahku agar tersadar bahwa realitas kehidupan sebenarnya tidak seindah mimpi itu

“Lebih baik menjadi orang yang menelusuri jalan setapak dari pada menjadi orang yang hafal peta dunia”….kalimat yang dalam maknanya, bahkan teman ini tidak menyadari bahwa kedalaman makna kalimat ini telah menjadi pendorongku untuk keluar menjauh dari istana kenyamanan yang suatu saat temboknya bisa menimpaku apabila ternyata aku sudah tidak lagi memiliki arti di istana itu. Mungkin aku saat ini memang menjadi salah satu tentara istana yang kuat dan sangat berarti bagi kejayaan kerajaan, sehingga seluruh kenyamanan benar-benar aku rasakan di istana ini. Tetapi akankah kenyamanan ini akan terus aku dapatkan saat pedangku sudah tidak lagi berguna ketika musuh sudah menggunakan meriam? Apakah ini juga akan tetap aku dapatkan apabila kerajaan ini telah memiliki roket pelontar nuklir sedangkan aku masih memakai pedang butut? Ilmu jurus pedangku saat ini memang diakui oleh kawan dan lawan, tapi apakah saat sudah waktunya perang nuklir aku masih bisa membanggakan ilmu jurus pedangku?  Kenapa tidak dari sekarang aku keluar dari istana ini untuk mempelajari seperti apa membuat nuklir. Bukankah bisa jadi bahkan aku akan kembali lagi ke istana ini sebagai ahli nuklir untuk membantu mereka survive dari musuh, karena mereka telah kehilangan punggawa kerajaan pernah menggantikanku dengan ilmu pedangnya yang lebih hebat akibat serangan nuklir??? (…..STOP!!!  jangan terlalu mengkhayal, kawan…kok jadi kemana-mana sih ngelanturnya???)

Ok kawan, begini saja..…saat anda berada di sebuah komunitas, lalu tidak ada yang bisa mengalahkan anda saat anda berargumen, tidak ada yang bisa membantah anda saat anda membuat keputusan karena tidak ada yang paham atas keputusan itu, tidak ada yang bisa bilang “kamu salah, yang benar begini”, atau tidak ada yang bisa mengajari anda saat anda butuh belajar tetapi anda selalu punya solusi buat mereka saat mereka tidak mampu menyelesaikan masalah……apakah itu artinya anda superior di komunitas itu? Mungkin iya…..lalu apakah anda layak mendapatkan penghormatan sebagai seorang master/guru/jagoan/orang sakti/apalah…suka2 orang ingin mengatakannya ??? Mungkin iya bagi anda,  namun tidak bagiku. Bagiku, itu artinya sudah saatnya anda keluar dari komunitas itu karena di situ semakin besar potensi untuk sombong, besar hati, dan merasa “paling” dalam diri anda. Anda perlu masuk ke komunitas lain di mana anda dianggap paling bodoh, idiot, dan tidak berguna agar anda memiliki motivasi untuk menyamakan posisi dan kemampuan dengan orang-orang yang lain di komunitas itu. Dunia ini terus berputar dengan dinamikanya yang tidak pernah berhenti, maka kita sudah selayaknya sejalan dengan dinamika itu. Berhenti sedetik saja, kita pasti akan tertinggal berpuluh-puluh langkah ke depan.

Ya, intinya aku harus resign dari perusahaan ini. Bukan karena tidak nyaman, bukan karena sakit hati, bukan juga karena perseteruan/pertikaian dengan atasan ataupun rekan kerja. Akan tetapi lebih karena aku tidak ingin terlalu terlena dengan indahnya romantisme ritme kerja di perusahaan ini. Aku ingin mencoba hidup di gubuk saja, tapi milikku sendiri dan kubangun dengan tanganku sendiri. Aku ingin dilihat biasa saja tanpa pangkat panglima kerajaan, tapi memiliki kemampuan membunuh 10x lipat daripada sang panglima. Aku ingin hidup di luar istana yang keras, penuh dinamika, bertemu banyak orang bukan hanya orang2 istana,  ingin mempelajari susahnya bercocok tanam di tanah gersang bukannya meremehkan masakan koki istana sedikit kekurangan bumbu….(***tuh kan makin ngelantur…udah ah…pokoknya gitu.)

4 Replies to “Kenyamanan semu seorang superior”

  1. Laksanakan ndan, sedang dalam proses menuju pengajuan. Semoga menjadi lebih baik. Please don’t mind to teach a new comer in your community…..

  2. @Masdodo, mohon doakan saya pak….menelusuri jalan setapak pasti tidak mudah, tapi pasti tetap akan bisa dilalui dengan dukungan sahabat, kerabat dan keluarga terdekat. Salam sukses juga buat Bapak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *