Politik, pembunuh berdarah dingin bagi rakyat

Entah kenapa inspirasi untuk menambahkan catatan-catatan elektronik (e-catatan)  ini  seolah-olah menjadi pola tahunan setiap maret . Tapi masih baguslah, paling nggak masih ada kepedulian terhadap e-catatan ini.

Politik negeri saat ini sedang dalam dinamika yang tidak sehat. Hampir seluruh rakyat Indonesia bahkan tidak berharap ada profesi yang bernama politikus . Bahkan banyak yang menginginkan negara ini kembali ke jaman rezim-rezim lama, bahkan mungkin tidak sedikit yang berharap kembali ke jaman feodalisme.  Faktanya masih banyak rakyat di luar Yogyakarta yang lebih hormat kepada Sultan Keraton Yogyakarta daripada Presidennya sendiri.

Persaingan para pendukung calon-calon presiden yang bertarung tahun lalu pun masih berlanjut sampai sekarang.  Meskipun calon-calon presiden tersebut saat ini sudah tidak bertarung lagi. Masing-masing pendukung selalu punya argumen yang logis untuk mengkritik maupun mendukung. Jadi jangan harap untuk bisa menyatukan mereka kembali. Ada tembok kokoh yang telah  berhasil dibentuk oleh pihak yang ingin menghilangkan semboyan “NKRI Harga Mati”.

Sebagai rakyat yang saat ini berada dalam kondisi terlindas kendaraan-kendaraan politik, saya masih belum bisa memahami kenapa saya yang dilindas.  Kenapa beras yang mahal harus dibebankan kepada saya? Kenapa seluruh efek domino naik turunnya BBM dan kenaikan harga beras harus saya juga yang menanggung bebannya?  Pajak-pajak yang rencananya akan diada-adakan pun kenapa saya juga yang harus menanggung bebannya?.

Rencana pembangunan Jalan Tol sekian ribu kilometer, rasanya saya nggak pernah minta karena memang nggak pernah memanfaatkan fasilitas itu. Angkutan umum pun hanya taksi dan kendaraan umum bertarif tinggi yang lewat tol.  Pernah Anda mendengar pemerintah merencanakan Jalan Tol lintas Pulau Flores? atau Jalan Tol dari Sorong ke Merauke? Saya yakin Anda belum pernah mendengar, karena memang tidak ada. Kenapa begitu? saya yakin Anda bisa berkesimpulan sendiri.  Pembatasan kendaraan roda 2 di jalan-jalan non-tol itu juga bukan untuk kenyamanan saya karena saya tidak punya mobil.

Tetapi ada sedikit kabar yang menghibur dari aspek kesehatan . Kartu-kartu kesehatan sudah sampai ke level rakyat bawah seperti saya. Tetapi kalau sakit, antrinya harus paling belakang. Kalau kamar-kamar sedang penuh, tidurnya di selasar-selasar rumah sakit nungguin mati supaya nggak menghabiskan banyak biaya plafon obat. Obat mahal bukan untuk rakyat seperti saya. Kartu Kredit dan Kartu ATM menjadi prioritas pelayanan dibandingkan dengan kartu-kartu kesehatan.

Semua kembali lagi kepada yang namanya Politik. Politik akan mengeluarkan aroma wangi, rasa yang manis, tampilan yang indah dan surga-surga bagi rakyat pada titik-titik 5 tahunan. Tetapi diantara titik-titik 5 tahunan itu politik adalah Pembunuh Berdarah Dingin bagi kami yang tidak menunggang kendaraan-kendaraan politik itu sendiri.

2 Replies to “Politik, pembunuh berdarah dingin bagi rakyat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *