Akhirnya kursi pelontar itu dilontarkan…

Hari minggu dini hari tanggal 09 November kemarin, pernyataan pengunduran diri saya dari perusahaan  saya kirimkan secara resmi melalui email. Dan artinya ejection seat yang selama ini dipersiapkan pun akhirnya dilontarkan.

Yang Terhormat
Presiden Direktur dan Presiden Komisaris
PT *** ****** ********
di tempat

Seiring ketidaksesuaian visi dan misi saya dengan perusahaan ini dan masih banyaknya rencana masa depan saya yang perlu saya raih, dengan berat hati bersama ini saya :

Nama : Adhie Utomo

Jabatan : Software Engineer PT *** ****** ********

menyatakan mengundurkan diri dari PT *** ****** ******** per tanggal 1 desember 2008.

Pengunduran diri saya ini telah melalui proses pertimbangan yang matang dan diputuskan dengan penuh kesadaran tanpa intervensi dari pihak manapun. Sisa waktu saya di PT *** ****** ******** akan saya manfaatkan untuk menyelesaikan project-project yang saat ini sedang berada dalam tanggung jawab saya. Saya sangat berterima kasih kepada manajemen PT *** ****** ******** yang telah memberikan kesempatan kepada saya berkembang bersama perusahaan ini.

Demikian surat pengunduran diri saya. Terima kasih atas pengertian dan kerjasamanya selama ini.

Hormat saya,
Adhie Utomo

Fiuh…akhirnya seluruh kekuatanku untuk bertahan di perusahaan ini telah habis. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang harus dipersalahkan. Perusahaan memiliki budayanya sendiri, sedangkan saya memiliki cara sendiri dalam menentukan jalan hidup saya. Tuhan menentukan jalan hidup saya harus seperti ini dan inilah yang harus dilalui.

Berat sungguh hati saya meninggalkan rekan-rekan kerja di perusahaan ini yang  telah memiliki tali persaudaraan yang begitu kuat. Begitu kuatnya tali persaudaraan ini hingga tingginya gaji yang ditawarkan beberapa perusahaan lain pun belum bisa membuat saya tergiur untuk segera meninggalkan perusahaan ini. Persahabatan dan persaudaraan yang indah masih merupakan pertimbangan utama saya dalam menentukan langkah hidup selanjutnya. Namun kenyamanan kerja yang tidak mendukung membuat saya terpaksa memutuskan harus meninggalkan perusahaan ini dengan harapan persaudaraan ini masih tetap terjalin selamanya .

Buat rekan-rekan kerja, maafkan saya atas keputusan ini . Semoga segala sesuatunya menjadi lebih baik untuk saya, kalian, dan perusahaan ini.

Di Garis Depan dalam Perang melawan Malu

Sebuah instruksi datang ke meja saya beberapa waktu yang lalu. Perjalanan dinas ke Palangkaraya dan Banjarmasin dalam rangka training sebuah software. Padahal saat itu bahkan saya tidak pernah tahu kalau software itu ada apalagi melihat tampang manisnya di monitor saya. Bisa dibayangkan, memberikan training kepada tim IT sebuah instansi di Palangkaraya dan Banjarmasin tentang software yang tidak pernah saya ketahui wujudnya. Sama dengan menyerahkan diri saya untuk dipermalukan di depan para tokoh IT berbekal kalimat “ah, itu kan software gampang. Mudah bagi kamu” dari sang pemberi instruksi.

Dan dugaan saya terbukti. Software tersebut masih jauh dari level 50%, boleh dikatakan masih memalukan untuk dipresentasikan di depan para ahli sistem informasi daerah itu yang bahkan sudah bisa melayani sistem pembayaran on-line bagi masyarakat daerahnya. Apalagi software ini ditargetkan untuk diimplementasikan secara nasional di 11 propinsi . Tapi ya sudahlah, yang namanya instruksi dari atasan ya harus dilaksanakan dengan dedikasi tinggi seberapapun memalukannya. Hujanan protes dan hinaan mengenai software ini pun terpaksa diterima meskipun di dalam hati tidak nyaman karena bagaikan menerima hukuman atas pidana yang tidak saya lakukan.

Sementara itu, prediksi saya tentang mundurnya 1 orang karyawan di bulan ini ternyata sedikit meleset. Tanpa diduga, 2 orang karyawan yang mengundurkan diri . Progress logaritmik crash landing perusahaan lebih tajam dari perkiraan saya. Sebuah pesan singkat tersirat dari penerjunan mereka, “selamat menikmati penerbangan indah anda, semoga selamat sampai di tujuan “…

Manajemen Brilian Menuju Crash Landing

Lama sudah saya tidak nge-blog sejak libur lebaran kemarin. Lebaran tahun ini begitu indah. Bertemu dengan keluarga, sanak family meskipun jauh di kampung halaman yang untuk menjangkaunya saja harus berkorban sakit pinggang karena lamanya perjalanan dan puasa lanjutan karena gaji sudah habis untuk berlebaran. Sangat terasa betapa berharganya waktu liburan yang singkat ini.

Liburan selesai, kemudian aktivitaspun dimulai kembali dengan load pekerjaan romusha yang begitu menguras pikiran dan tenaga. Perusahaan tidak mau dirugikan karena harus membayar THR untuk karyawan. “Berlibur kok malah dibayar oleh perusahaan, mestinya kan gajinya malah dipotong karena ga masuk kerja”, begitu pendapat para pemegang kendali perusahaan tempat saya bekerja. Akhirnya karyawan harus bekerja siang dan malam tanpa lembur dengan alasan gajinya bulan ini lebih banyak.

Sungguh pemikiran yang “brilian” untuk manajemen perusahaan ini. Cukup untuk membuat 2 orang karyawan mengundurkan diri sekaligus bulan ini, dan 1 orang lainnya untuk bulan depan. Sementara itu, ejection seat saya sudah di depan mata. Tinggal menunggu sumbu dinamit terbakar habis…lalu berakhirlah sudah serial perusahaan ini di Fightmaster Explore. Bayang-bayang “crash landing” yang akan dialami perusahaan ini semakin nyata dengan perkiraan waktu yang progresif semakin dekat. Lalu munculah daftar produk-produk MIcrosoft di dalam benak saya saat ini : ” OUTLOOK for another OFFICE from my WINDOWS ”