Berusaha menikmati cobaan

Menengok kembali surga cyberku ini membuatku sedikit merasa bersalah. Sudah hampir 2 bulan ternyata aku tidak menuliskan apapun di sini . Bukannya tidak ada yang bisa dicurahkan, tapi memang hampir tidak ada waktu untuk mencurahkannya. Semenjak istriku hamil, praktis hampir seluruh waktuku hanya tercurah untuk keluarga dan pekerjaan di kantor. Laptopku saja baru bisa aku sentuh di atas jam 10 malam, itupun digunakan untuk mencari tambahan penghasilan (*meskipun ga dapet-dapet ) dan mempelajari teknik-teknik pemrograman baru. Praktis waktu tidurku hanya 3 jam dalam sehari selama lebih dari setengah tahun ini. Layar Lucidku baru aku shut down jam 3 pagi, dan aku harus bangun kembali jam 6 pagi  kalau tidak ingin kena SP dari atasan karena sering telat. Subhanallah, aku masih diberi kekuatan untuk tidak jatuh sakit sampai kalimat ini aku tuliskan di sini .  Yang ada dalam tekadku saat ini, apapun akan aku lakukan untuk memberikan kebahagiaan kepada istri dan putri manisku yang akan lahir bulan depan …Insya Allah.

Waktu berjalan sangat cepat ternyata. Rasanya baru saja aku terkejut bahagia setelah istriku mengaku hamil 1 bulan, ternyata ini sudah bulan ke 7 sejak keterkejutanku itu. Padahal aku mempersiapkan apapun, bahkan nama untuk putriku pun masih belum terlintas di benakku. Aku terlalu larut dalam kesibukan mengemis rejeki dan belas kasihan Sang Maha Kaya. Janji-Nya untuk merubah nasibku apabila aku berusaha sekuat tenaga untuk itu, terus aku pinta demi kebahagiaan anak dan istriku. Meskipun pada kenyataannya justru sebaliknya. Cobaan silih berganti menerpa keluarga kami. Mulai dari tidak dibayarnya gaji istriku selama 4 bulan, banyaknya pengeluaran keluarga yang tak terduga, dan sampai dengan isu bahwa perusahaan tempatku bekerja akan gulung tikar. Semuanya tentang materi memang, tapi bagiku tiada kebahagiaan tanpa kecukupan materi. Bahkan ketidakcukupan akan mendekatkan kami kepada kekufuran.

Semuanya telah aku pasrahkan pada Pemilik Jiwa kami. Apalah artinya tenagaku untuk mengatasi ataupun mengantisipasi itu semua, namun aku percaya itu hanyalah sedikit lemparan ion atom ke atas kepalaku untuk menguji apakah kami pantas mendapatkan kasih sayang-Nya.

Ketika kebahagiaanku tiba

Wuaaaahhh…lama banget aku ga ngeblog. Sejak post terakhir tentang kekecewaan Ramadhan atas diriku. Kesibukan-kesibukan harian telah membuatku meninggalkan surga cyberku ini.

Di akhir Ramadhan kemarin kulepaskan masa lajangku dengan menikahi bidadari hatiku di sebuah kota santri. Kehidupanku berlanjut dalam sebuah keluarga kecil bahagia di tengah padat dan sumpeknya kota metropolitan ini. Tiga bulan telah terlewati tanpa terasa karena kebahagiaan ini. Kehidupan religius pelan-pelan mulai aku jalani atas bimbingan istri tercinta dalam menata hati ini. Tiada lain yang pantas aku lakukan selain bersyukur atas anugerah ini.

Di sisi lain, pekerjaan di profesiku mulai berdinamika. Diangkat menjadi karyawan tetap, namun justru turun posisi. dengan alasan skill dan kemampuan yang minim.  Atasan pun berpindah tangan dari yang bertipe think smart ke atasan yang bertipe work hard (mengutip istilah rekan kerja). Sebagian teman-teman yang bekerja di luar perusahaan ini beranggapan aku begitu bodoh karena masih saja tidak mau bersyukur atas kemapanan pekerjaan yang telah aku raih. Tapi bagiku, ini bukan mapan tapi bunuh diri. Berkutat sebagai seorang ahli dengan atasan berpengetahuan nol tentang bidangku. Walhasil, selalu saja beda pendapat terjadi dan berujung pada pertengkaran yang nggak penting. Keputusan di tangan atasan, akan tetapi kalo ada masalah dengan keputusannya, aku yang harus membereskan dengan alasan itu tanggung jawabku. Bertahan untuk sementara waktu, mungkin itu yang bisa aku lakukan saat ini sambil menunggu waktu yang tepat untuk melambungkan e-nixsoft dalam genggaman tangan kami sendiri bersama teman2 seperjuangan….seperjuangan dalam menjalani kehidupan keras metropolitan.

Namun ini hanya masalah kecil. Tidak akan pernah menjadi sebuah halangan yang berarti bagi kebahagian rumah tangga yang aku bangun.  Rejeki di tangan Sang Pencipta Nafsu, bukan ditangan atasanku ataupun perusahaan. Itu yang selalu aku yakin dan akan terus aku yakini.