Home sweet home

Tanggal 26 september, akhirnya tiba saatnya tiket bis karina di tanganku sudah harus mengantarku pulang ke kampung halaman di Jawa Timur . Jam 1 siang, saya dan 2 orang rekan yang kampung halamannya searah denganku sudah standby di ‘kandang’ bis Karina di kawasan Lebak Bulus. Akan tetapi sampai dengan jam 2 siang belum ada tanda-tanda keberangkatan…. Saya lalu konfirmasi ke bagian ticketing tentang keterlambatan ini. “Maaf pak, bisnya sedang diperbaiki di belakang, nggak tau sampai kapan. Mohon ditunggu aja pak”…wah kayaknya bakalan jadi perjalanan mudik yang kacau nih. Bayangkan kalau kerusakannya kumat lagi dalam perjalanan, bisa-bisa kami lebaran di jalan. Waktu berjalan terus ditengah teriakan perut dan usikan emosi di bulan puasa ini. Jam 3..jam 4..jam 5..dan bis yang sok selebritis itu pun akhirnya bertengger juga di area keberangkatan. Alhamdulillah, akhirnya kami tidak perlu berbuka puasa ataupun sahur di ruang tunggu.

Perjalanan kami ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Lancar dan nyaris tanpa hambatan. Syukurlah bayangan kemacetan puncak arus mudik tidak terjadi pada kami. Bahkan bis yang saya tumpangi masih sempat mampir di sebuah rumah makan di tepi pantai Tuban. Ada kesempatan bagiku untuk berfoto  di pantai sekedar melepas lelah sebelum melanjutkan perjalanan  lagi. Pukul 2 siang keesokan harinya, bis sudah memasuki terminal Purabaya Surabaya, dan jam 5 sore saya sudah tidur-tiduran di kasur kesayanganku sambil menunggu waktu berbuka puasa dengan menu-menu kesukaanku . Home sweet home…akhirnya perjalanan melelahkan terlampaui sudah. Lebaran indah akan tiba beberapa hari lagi bersama orang tua dan adik-adikku tersayang..

Just Diary

Previous article

Keep Fighting in Ramadhan