Kejenuhan kembali melanda

Malam  ini kembali saya dilanda kejenuhan dalam rutinitas hidup yang monoton. Dinamika yang terjadi dalam hidup saya sampai dengan saat ini masih berjalan di tempat. Ditambah lagi dengan pekerjaan-pekerjaan membosankan di kantor yang tidak kunjung usai. Project-project pengembangan dari developer terdahulu yang masih dengan logika-logika “cupu” dilengkapi dengan nihilnya dokumentasi, user-user yang tidak jelas keinginannya, disempurnakan dengan sarana development yang pas-pasan membuat saya semakin bad mood. Beberapa upaya saya untuk menimbulkan sedikit riak dinamika dalam aliran konstan hidup saya pun sia-sia. Hampir dua tahun saya habiskan umur di Jakarta dengan kehidupan yang masih begini-begini saja.

Beberapa waktu lalu saya sempat berbincang dengan beberapa teman dalam organisasi di bangku kuliah dahulu.  Kebetulan mereka sudah menjadi karyawan-karyawan tetap di perusahaan tempat mereka bekerja…dan mereka  sudah menikah. Diantaranya bahkan telah memiliki putra/putri. Tentunya semua fasilitas wajib untuk label karyawan sebuah perusahaan sudah mereka miliki. Jaminan Kesehatan untuk diri dan keluarganya, tunjangan ini-itu-tetek-bengek tentunya sudah tidak perlu diragukan lagi.  Begitu tenangnya mereka dengan kondisi monoton yang membelenggu kehidupan mereka. Selama 5-7 tahun bekerja di satu perusahaan dengan gaji yang bisa dibilang flat (karena kenaikan gajinya jika dihitung hanya sebanding dengan inflasi setiap tahunnya)  tetapi mereka sangat nyaman dengan kondisi itu. Hidup di rumah petak kontrakan tanpa tahu kapan bisa memiliki rumah sendiri, tanpa berpikir bagaimana jika tiba-tiba diPHK secara sepihak oleh perusahaan, membuat mereka tenang dalam menjalani hidupnya. Yang saya herankan kebanyakan orang yang saya temui memiliki pemikiran yang hampir sama dengan pemikiran teman2 saya ini.

Karena pemikiran-pemikiran semacam ini terjadi secara umum, saya mulai berpikir jangan-jangan otak saya yang mulai nggak bener. Kenapa saya justru menginginkan dinamika dalam hidup sementara orang lain sudah cukup puas dan tenang dengan keadaan yang mereka saat ini? Bukankan kita hidup untuk mencari ketenangan?? demikian selintas benak saya berbicara. Akan tetapi saya justru berpikir bagaimana saya bisa tenang jika seumur hidup tinggal di rumah kontrakan kecil, lalu berpasrah diri jika tiba-tiba diPHK, kemudian ditendang keluar rumah oleh pemilik kontrakan karena tidak mampu membayar kontrakan, lantas diciduk kamtibmas karena mengemis demi menghidupi keluarga. Dan semuanya ternyata hanya berawal dari hidup yang monoton dan ketergantungan pada gaji bulanan yang flat.

2 thoughts on “Kejenuhan kembali melanda

  1. Ndi says:

    Wakz… Akhirnya tertuliskan jua, Persis!

    1. fightmaster says:

      apanya yang persis, ndi? 😀 emangnya ada hubungannya dengan kamu?? 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *