Ketika kebahagiaanku tiba
Wuaaaahhh…lama banget aku ga ngeblog. Sejak post terakhir tentang kekecewaan Ramadhan atas diriku. Kesibukan-kesibukan harian telah membuatku meninggalkan surga cyberku ini
.
Di akhir Ramadhan kemarin kulepaskan masa lajangku dengan menikahi bidadari hatiku di sebuah kota santri. Kehidupanku berlanjut dalam sebuah keluarga kecil bahagia di tengah padat dan sumpeknya kota metropolitan ini. Tiga bulan telah terlewati tanpa terasa karena kebahagiaan ini. Kehidupan religius pelan-pelan mulai aku jalani atas bimbingan istri tercinta dalam menata hati ini. Tiada lain yang pantas aku lakukan selain bersyukur atas anugerah ini
.
Di sisi lain, pekerjaan di profesiku mulai berdinamika. Diangkat menjadi karyawan tetap, namun justru turun posisi. dengan alasan skill dan kemampuan yang minim. Atasan pun berpindah tangan dari yang bertipe think smart ke atasan yang bertipe work hard (mengutip istilah rekan kerja). Sebagian teman-teman yang bekerja di luar perusahaan ini beranggapan aku begitu bodoh karena masih saja tidak mau bersyukur atas kemapanan pekerjaan yang telah aku raih. Tapi bagiku, ini bukan mapan tapi bunuh diri. Berkutat sebagai seorang ahli dengan atasan berpengetahuan nol tentang bidangku. Walhasil, selalu saja beda pendapat terjadi dan berujung pada pertengkaran yang nggak penting. Keputusan di tangan atasan, akan tetapi kalo ada masalah dengan keputusannya, aku yang harus membereskan dengan alasan itu tanggung jawabku
. Bertahan untuk sementara waktu, mungkin itu yang bisa aku lakukan saat ini sambil menunggu waktu yang tepat untuk melambungkan e-nixsoft dalam genggaman tangan kami sendiri bersama teman2 seperjuangan….seperjuangan dalam menjalani kehidupan keras metropolitan
.
Namun ini hanya masalah kecil. Tidak akan pernah menjadi sebuah halangan yang berarti bagi kebahagian rumah tangga yang aku bangun. Rejeki di tangan Sang Pencipta Nafsu, bukan ditangan atasanku ataupun perusahaan. Itu yang selalu aku yakin dan akan terus aku yakini.