3 bulan setelah ejection seat
Sebenarnya tulisan ini ingin saya blog-kan pada tanggal 1 maret kemarin. Ya…tepat 3 bulan setelah ejection seat saya lontarkan dari Satu-satunya, dan memulai penerbangan saya yang baru. Akan tetapi kesibukan di Perusahaan yang baru membuat saya tidak sempat melakukannya saat itu. Saat ini seluruh karyawan seperjuangan saya di tim teknis Satu-satunya telah meng-eject seat-nya masing-masing dan menjalani penerbangan mereka dengan berbagai dinamika dan liku-liku kehidupan mereka yang beragam. Sementara saya, alhamdulillah, telah menemukan kenyamanan di perusahaan tempat saya bekerja sekarang
.
Di awal saya masuk di perusahaan ini, kerinduan saya terhadap rekan-rekan kerja terdahulu terus membayangi sehingga sedikit mempengaruhi konsentrasi dan performansi kerja. Ada sedikit keraguan apakah saya mampu membentuk persaudaraan baru dengan rekan-rekan kerja saya di sini. Tentu saja yang saya harapkan bukanlah persaudaraan seperti yang pernah terbentuk di Satu-satunya, karena persaudaraan yang pernah terbentuk di sana tidak pernah ada duanya…udah jelas, namanya saja Satu-satunya
. Akan tetapi yang saya harapkan di sini adalah persaudaraan yang baru dengan nuansa baru yang memiliki karakteristik tersendiri.
Hari demi hari saya jalani di perusahaan ini dengan setumpuk pekerjaan IT yang lumayan banyak. Maintenance beberapa aplikasi web yang telah ada, membangun aplikasi-aplikasi web baru, sampai dengan membenahi program aplikasi dari programmer-programmer terdahulu yang posisinya saat ini saya gantikan. Hal tersulit bagi saya adalah membenahi aplikasi yang ditinggalkan programmer-programmer terdahulu, karena ternyata aplikasi yang saya benahi adalah aplikasi yang telah di-develop lebih dari 2 generasi programmer . Artinya saya harus mempelajari dan memahami logika dari programmer pioneer sampai dengan programmer-programmer yang melanjutkan development aplikasi sebelum saya bergabung dengan perusahaan ini dan menyelesaikan kekurangan-kekurangan pada aplikasi sehingga dapat diimplementasikan. Yang lebih parah, programmer terdahulu dan programmer pelanjut memiliki kemampuan skill yang berbeda platform bahasa pemrograman sehingga saya harus melanjutkan juga dalam bahasa-bahasa itu untuk menyelesaikannya. Terus terang, apabila saya memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikannya, saya memilih untuk membangun aplikasi itu dari awal dengan struktur-struktur yang jelas.
Sayangnya target perusahaan yang ketat memaksa saya hanya bisa melanjutkan apa yang sudah ada apabila tidak ingin performansi kerja dan kontribusi saya terhadap perusahaan ini nihil. Alhamdulillah, saat ini beberapa aplikasi sudah saya selesaikan dengan baik dan telah diimplementasikan meskipun harus “membelah otak” saya untuk memikirkan logika dalam beberapa bahasa pemrograman
.
Sementara itu, hubungan saya dengan rekan-rekan di perusahaan ini semakin akrab. Tanpa terasa persaudaraan yang saya harapkan telah terjalin dengan sendirinya sejalan dengan kekompakan kerja. Kenyamanan mulai saya rasakan dalam komunitas ini meskipun dalam ritme kerja yang tinggi. Ditambah lagi atasan-atasan yang mengayomi dan mau mengerti bawahan, membuat kami segan apabila performansi kerja kami tidak sesuai dengan harapan. Beberapa rekan di divisi lain memang ada yang mengeluh dengan kurangnya fasilitas yang diberikan oleh perusahaan. Bahkan banyak juga yang mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Saya hanya tersenyum dan sambil mendengarkan curhat mereka saya berkata dalam hati, “ah cuma segitu aja udah mengeluh…saya udah pernah mengalami yang lebih parah di Satu-satunya”..hahahahaha. Paling tidak, di sini saya belum pernah mengalami memperoleh instruksi pekerjaan jam 5 sore dan harus selesai besok jam 7 pagi yang membuat saya harus menghabiskan 2 pack rokok dan 5 gelas kopi agar memperoleh insomnia semalaman demi pekerjaan tanpa uang lembur dengan alasan tanggung jawab seperti yang pernah saya alami di Satu-satunya.
Menengok ke Satu-satunya, beberapa rekan yang masih bekerja di sana bercerita bahwa Satu-satunya melakukan rekruitmen besar-besaran untuk menggantikan kami yang telah mengundurkan diri. Seperti biasa, persyaratan untuk bisa melamar kesana cukup membuat para pelamar fresh graduate minggir. Pelamar berpengalaman pun harus membuka kitab C#, PHP, ASP, Java untuk menghadapi test sebagai programmer. Saya langsung berpikir, ini pasti bakalan konyol ending-nya. Dan penonton pun terkekeh..test-nya dilakukan oleh Sarjana Ekonomi dan Sarjana Hukum. Direktur IT yang menjadi atasan saya dahulu tidak dilibatkan. Beberapa yang terseleksi (entah apa parameternya) pun langsung bekerja. Pekerjaan utamanya: membuat USTEK (yang seharusnya pekerjaan marketing) menggunakan software Microsoft Word…bajakan. Lalu di mana menerapkan PHP, C# dan blabla yang disyaratkan sebelumnya
?? Hehe..ya begitulah yang pernah saya alami juga saat di Satu-satunya. Kalau mengenang kembali saat masih di Satu-satunya kadang-kadang saya tersenyum sendiri. Andaikan manajemen memiliki sedikit rasa kemanusiaan dan menghargai karyawannya, saya yakin saat ini Satu-satunya tentu telah menjadi perusahaan IT yang cukup besar dengan karyawan-karyawan potensial dan tangguh yang loyal serta memiliki persaudaraan yang indah…..dan saya masih berada di sana bersama mereka..betapa bangganya.
Saat ini semua telah berubah. Meskipun saya yakin sedikit banyak rekan-rekan juga memiliki pemikiran-pemikiran seperti ini. Mereka pun telah memiliki jalan hidup mereka masing-masing meskipun persaudaraan masih terjalin melalui milis, atau pun acara-acara insidental yang sengaja diadakan untuk mempererat silaturahmi.
numpang komen..
kepekso, mosok isuk” kommen :p
belajar dari pengalaman di suatu perusahaan yg bergerak di soft devp Banking..
dari pengalaman kerja disana terlihat sekali bahwa manajemen di sana mampu membaca dan menggunakan karyawan sesuai dengan kemampuan mereka masing”.
Itulah gunanya psikotest dan interpiu.
Kayaknya berbeda dgn satu-satunya, karena psikotest dan interpiu cuma syarat doank… !!!!!!!!!!!!!!!
dan gak ada evaluasi !!!!!!!!!!!!!
:))
tanyakan kenapa??????????????????
udah ah
ngantuk…..zzzzzzzzzzz
@lobinda: hehehe….thanx cuy. Pengalaman di Satu-satunya sangat berharga bagi kita untuk djadikan pelajaran.
*geleng2.. saking cintane nang direktur utama rek2 :))
hehehehe…amiiinnnn 😛
Calon Dir SDM neh…