Politik, pembunuh berdarah dingin bagi rakyat

Entah kenapa inspirasi untuk menambahkan catatan-catatan elektronik (e-catatan)  ini  seolah-olah menjadi pola tahunan setiap maret . Tapi masih baguslah, paling nggak masih ada kepedulian terhadap e-catatan ini.

Politik negeri saat ini sedang dalam dinamika yang tidak sehat. Hampir seluruh rakyat Indonesia bahkan tidak berharap ada profesi yang bernama politikus . Bahkan banyak yang menginginkan negara ini kembali ke jaman rezim-rezim lama, bahkan mungkin tidak sedikit yang berharap kembali ke jaman feodalisme.  Faktanya masih banyak rakyat di luar Yogyakarta yang lebih hormat kepada Sultan Keraton Yogyakarta daripada Presidennya sendiri. Continue reading “Politik, pembunuh berdarah dingin bagi rakyat”

Sisi lain Pemilu 2009

Partisipan Pemilu 2009
Partisipan Pemilu 2009

Seperti sering terjadi menjelang libur panjang, para pendatang yang mengadu nasib di kota-kota besar memenuhi Terminal dan Stasiun untuk membeli tiket. Saya termasuk salah satu di antara jutaan orang ini. Berebutan agar tidak kehabisan tiket. Maklum saja, kehabisan tiket di liburan panjang merupakan yang lumrah dan bukan sesuatu yang penting untuk mendapat perhatian khusus di Indonesia. Apalagi para wakil rakyat dan pemerintah kan sudah memiliki mobil pribadi, jadi ga perlu pusing mikirin transportasi rakyat. Tapi tak apalah, ketidakpedulian seperti inipun sudah dianggap lumrah oleh rakyat sehingga ketidakpedulian mereka terhadap pemilu legislatifpun semestinya dapat dianggap efek yang wajar, terbukti dengan tingginya jumlah golput pada Pemilu 2009 ini.

Kebanyakan masyarakat justru beramai-ramai pulang ke kampung halaman bukan karena ingin berpartisipasi dalam Pemilu 2009 ini. Itu hanya tujuan sampingan. Sekedar alasan agar bisa pulang kampung dan tidak dipaksa lembur oleh atasannya di kantor. Continue reading “Sisi lain Pemilu 2009”